Bila suatu saat aku jatuh cinta..

Allahu Rabbi aku minta izin
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang
Hingga membuat lalai akan adanya Engkau

Allahu Rabbi
Aku punya pinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh

Allahu Rabbi
Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan
kasih-Mu
dan membuatku semakin mengagumi-Mu

Allahu Rabbi
Bila suatu saat aku jatuh hati
Pertemukanlah kami
Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu

Allahu Rabbi
Pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh hati
Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku
Anugerahkanlah aku cinta-Mu...
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu

Amin !

dapet dari dudung.net :D afwan..

contoh teladan dari Pak Suyanto

pagi ini ada kunjungan dari salah satu Sekolah dari pulau Dewata atau Bali.
Pak Suyanto, beliau merupakan ketua SMTIK Amikom Yogyakarta. beliau dikenal bersahaja disini, tempatku bekerja. banyak sekali kepribadian beliau yang patut ditiru. sungguh seorang pemimpin yang sangat berkwalitas. banyak sekali yang kagum, tentu tak ketinggalan saya :D

di acara pertemuan pagi ini dengan murid-murid sekolah pulau bali itu, seperti biasa, pak Yanto memang kalau dawuh (bicara.red) maaf, cedal. tidak bisa bilang huruf "r" dengan jelas.
dari kursi belakang murid-murid Smu itu, ada yang nyeletuk "eeerrrr.. errr..", sambil cekikikan.

beliau (P Yanto) yang mendengarpun hanya tersenyum dan berkata, "saya yang mempunyai kekurangan seperti ini pun alhamdulillah bisa membuat sekolah tinggi yang cukup besar seperti ini ya.. semoga teman-teman yang tak mempunyai kekurangan seperti kalian mestinya bisa lebih seperti saya..", ujar beliau sambil tersenyum.

subhanallah.. beliau tidak sombong, atau marah sudah disinggung seperti itu. tapi beliau malah mengingatkan dan mendoakan semuanya.

Perlunya Kesabaran dalam Bekerja

Sabtu kemarin, seperti biasa tugasku di kantor sebagai orang marketing, administrasi, implementator, bla bla,, gotong royong kerjanya :D mendapat tugas sebagai trainer ke salah satu universitas di Yogya. Universitas yang tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil juga. Sebenarnya universitas tersebut sempat populer. Namun karena jaman semakin maju, dan (mungkin) dia tidak melakukan perubahan, maka tidak terlihat lebih maju juga.

Bukannya ingin menjelekkan atau meng-under estimate, universitas tersebut rupanya mempunyai beberapa kendala dalam hal SDM nya. Kurangnya orang IT dalam memanage, kurangnya konsistensi serta kerjasama yang baik antar bagian kelihatan jelas


Balik lagi, waktu itu aq nraining orang depan, atau disebut CS. Sebut saja mbak R. Dia datang bersama orang bagian pemasaran rupanya (saya tahu setelah mereka meninggalkan lokasi) dan tak beberapa lama temanku nraining, karena aku harus nraining adminnya, dia terlihat seperti dimarah-marahi. Ibu-ibu bagian pemasaran tersebut ingin aplikasi itu segera dipakai saat itu juga. Dan temanku menjelaskan bahwa itu tergantung adminnya kapan mau membuka line data baru, karena keinginan kami trial dulu. Memakai data palsu agar nantinya tidak perlu dihapus lagi bila salah. O’o.. rupanya ibu tersebut tidak mau mendengarkan penjelasan temanku. Dan aku ikut cemas juga. Akhirnya aku ikut bicara ke ibu tersebut. Dan ibu tersebut ngerti dan mereka keluar. Itupun karena tidak jadi training. Network error. What? Dan itu sering terjadi. Itulah salah satu awal kebobrokan yang sedikit terbuka. OMG!


Setelah beberapa teknisi datang, itupun teknisi yang kami bawa, karena orang IT di universitas segede itu cuman satu. Pada kluar semua. Entah. Teknisi kami ikut membantu. Sambil mereka membenarkan dan bisa, akhirnya aku datang ke ruang PMB dan me-nraining CS serta ibu-ibu tadi.


Ruang PMB namanya. Suasana terasa sedikit mencekam. Ibu-ibu pemasaran tadi (sebut saja Bu P) berbicara sedikit keras dan kasar kepada bawahannya. Posisi aku di depannya, menghadap ke arah lain sedang mengajari CS menggunakan aplikasi yang sudah kami buat dengan susah payah, menyesuaikan keadaan universitas tersebut. Tak selang lama, ibu P marah kepada karyawannya. Entah apa yang terjadi, dia tiba-tiba melempar tempat sampah dengan keras. Spontan aku dan temanku saling berpandangan. Dan aku sempat melirik sedikit. Hwehwe.. mencekam!! Ngeri!! Namun kita cuek saja. Namun tak beberapa lama kemudian, ibu P menumpahkan isi meja ke lantai.


Bruuakkkk!!! Klontang... *lebai deh :P


Aku dan temanku sudah buyar konsentrasinya. Mbak CS yang aku ajari pun mulai tidak konsentrasi. Dia terlihat malu dengan apa yang sudah diperbuat manajernya. Kamipun jadi sungkan. Akhirnya mbak CS mulai terlihat BT, dan menyudahi pelatihan. Akupun oke-oke saja dengan kebijakan itu. Stay cool, tidak terlihat tertekan dengan keadaan meski dalam hati bertanya-tanya. Ibu P pun sampai berbuka puasa. Haha.. syukurlah. Kamipun kembali ke ruang server, eh, ruang lab, eh, ruang IT *gak jelas*, sempet update status, dan pulang setelah mendapat tanda tangan penyerahan (berita acara).


Usut punya usut, ternyata ibu P tersebut adalah manajer pemasaran yang diberi target oleh rektor untuk mendapat 300 mahasiswa, namun dia hanya mendapat 180 saja. Dan dia sangat stress dengan hasil ituh. Smpai akhirnya sensi dibawa kemana-mana. Kasihan pegawainya kalo udah gitu L. Ibu P pun sebelum bekerja di universitas ituh adalah seorang manajer keuangan di salah satu STIE paling kaya di Jogja. Dan dia terlibat kasus korupsi ber puluh-puluh juta sampai akhirnya dipecat. Diterima deh di universitas ini.. haduuh

Sekian cerita dariku. Aku jadi merasa sangat bersyukur sudah bekerja di tempat yang orang-orangnya menjunjung profesionalitas tinggi. Lebih tinggi dari univ yang itu. Dan kita do’akan semoga ibu P selamat dunia akhirat. dan Allah memaafkanku karena sudah panjang lebar nyeritain ibu P amiien :D

90 Langkah Menuju Mushola

Lelaki istimewa itu bernama Didi. Aku biasa memanggilnya pak Didi. Usianya kini sudah berkepala enam. Aku mengenal beliau sudah sekitar tiga tahun, semenjak aktif menjadi jamaah di mushola Baiturrohim. Beliau tinggal bersama keluarganya di RT 04 tak jauh dari mushola, sedang aku tinggal di RT 02. Secara pribadi, aku memang tidak tahu banyak tentang beliau, namun dimataku beliau adalah sosok yang luar biasa. Salah satu ‘keistimewaan’nya telah memberiku semangat sekaligus menyadarkanku akan besarnya nikmat yang telah Allah berikan.
Pertama, beliau ini aktif sholat berjamaah di mushola Baiturrohiim. Beliau selalu menempati tempat yang tetap, di shaft pertama ujung sebelah kiri. Kedua, beliau selalu menjadi jamaah yang pertama hadir untuk sholat Shubuh. Suara merdunyalah yang pertama kali terdengar melantunkan sholawat dari pengeras suara mushola yang terletak di sisi jalan yang memisahkan RT 02 dan RT 04 ini. Dan beliaulah yang lebih sering mengumandangkan azan subuh, baru kemudian yang lain datang, termasuk aku. Hanya itu? Tidak! Pak Didi terasa lebih istimewa, karena beliau kini hanya memiliki empat indera.
Kecelakaan kerja beberapa tahun silam telah membuat indera penglihatan pak Didi tidak berfungsi lagi. Secara fisik, mata beliau tidak mengalami cacat, hanya saja keduanya kini sudah tidak bisa melihat sama sekali. Jika pak Didi selalu menempati tempat favoritnya di shaft pertama sebelah kiri, ini wajar sebab beliau selalu datang dari pintu sebelah kiri, kemudian menyusuri tembok dan akan berhenti ketika tangannya sudah menyentuh tembok depan. Semua jamaah mushola sudah tahu akan hal itu, dan tak pernah ada yang mencoba menempati tempat ‘ekslusif’ Pak Didi.

Saat datang untuk sholat maghrib, aku sering melihat Pak Didi diantar oleh cucu laki-laki dan sesekali oleh cucu perempuannya yang baru berusia belasan tahun. Usai sholat maghrib, pak Didi lebih sering tetap berada ditempatnya, berzikir dan mendengarkan jamaah lain mengaji. Usai sholat isya, biasanya sang istri sudah menunggu di depan pintu mushola.

Lalu, bagaimana cara beliau mendatangi mushola untuk sholat subuh ketika belum satupun jamaah lainnya hadir di mushola ini? Aku tak pernah tahu. Setiap aku tiba di mushola, beliau sudah datang lebih dulu. Justru, seringnya lantunan sholawat beliaulah yang membangunkanku. Setiap kali aku mencoba untuk datang lebih awal, selalu saja beliau sudah lebih dulu berada di dalam mushola.

Aku makin penasaran. Sampai akhirnya, suatu saat aku mendapatkan kesempatan untuk bertanya kepada beliau, siapa yang mengantarnya ke mushola, membangunkan warga sekitar untuk sholat shubuh berjamaah. Diantar cucunya yang masih kecil itukah, atau diantar istrinya yang setia?

Aku terkejut mendengar jawaban pak Didi.

Selama ini, untuk sholat subuh saya lebih sering datang ke mushola sendiri, tanpa diantar cucu atau istri. Bukannya mereka tidak mau, tapi memang mau saya begitu. Sebelum subuh, jalanan masih sepi, jadi saya tidak khawatir berpapasan dengan orang-orang yang lalu lalang

Pak Didi tidak takut nabrak, terpeleset atau……..maaf, nyasar misalnya?” dengan hati-hati aku bertanya, takut beliau tersinggung.

Insha Allah tidak. Saya sudah mempunyai hitungan sendiri “ beliau menjawab dengan tenang, tanpa menunjukan rasa tersinggung sedikitpun atas pertanyaanku.

Maksudnya, hitungan bagaimana Pak?” aku makin penasaran.

Kemudian dengan gamblang beliau menjelaskan ‘rumus’ yang dimilikinya untuk bisa sampai ke mushola ini tanpa nabrak ataupun khawatir terpeleset kedalam selokan yang berada di sisi jalan. Dengan bantuan tongkat kecilnya, beliau berangkat dari rumah sendiri ketika orang-orang ( termasuk aku ) masih lelap dalam tidur. Beliau berjalan dengan mengandalkan ingatan mengenai jalan menuju mushola. ( Kebutaan yang dialami pak Didi memang bukan sejak lahir, tapi karena kecelakaan, jadi beliau masih memiliki gambaran tentang jalan dan juga rumah-rumah yang ada disepanjang jalan menuju mushola.).

Pertama, beliau keluar rumah dan berjalan lurus kurang lebih 10 langkah. Sampai di jalan kecil ber-konblok, beliau belok kiri dan melangkah sekitar 15 langkah. Dengan bantuan tongkatnya, beliau akan memastikan tembok rumah tetangganya, dimana dia harus belok kanan dan melangkah lagi sekitar 10 langkah. Saat berada di jalan ini, tangan kiri beliau akan meraba tembok rumah tersebut, hingga sampai di ujung. Kemudian beliau akan belok kiri dan berjalan lurus kurang lebih 28 langkah. Setelah itu beliau akan berbelok kearah kanan, maju 10 langkah dan mencoba memastikan keberadaan tembok mushola dengan tongkat kecilnya. Setelah berhasil menemukan tembok mushola, beliau kemudian akan terus maju hingga kurang lebih 17 langkah sampai beliau bisa menyentuh pintu mushola.

Begitulah, setiap pagi disaat orang-orang masih banyak yang terlelap, pak Didi sudah lebih dulu datang ke mushola dengan ‘meraba’ jalanan yang gelap. Gelap, benar-benar gelap, bukan karena tak ada lampu tapi karena beliau sudah tak bisa menangkap apapun dengan indera penglihatannya. Aku sering mendapati buktinya. Ketika tiba di mushola, keadaan masih gelap, tak ada lampu yang menyala, padahal pak Didi sudah berada di dalamnya melantunkan sholawat atau mengumandangkan azan. Dan jika ia mampu menggunakan pengeras suara untuk membangunkan warga dengan sholawat dan azan, itu juga ia lakukan dengan cara meraba. Subhanallah!

Aku tertegun mendengar cerita pak Didi. Aku merasa malu, malu dengan diriku sendiri,. Allah telah memberiku anugerah yang sangat besar. Kelima inderaku semua berfungsi dengan sempurna, namun sering kuanggap biasa-biasa saja. Syukur itu seringkali hanya menjadi ucapan bibir semata. Sementara pak Didi, istiqomah mendatangi jamaah sholat shubuh dengan susah payah, bahkan selalu hadir lebih awal, dalam kegelapan yang sebenarnya. Pak Didi mampu mewujudkan syukur itu dalam tindakan nyata. Kebutaan, kegelapan yang kini beliau rasakan, mampu beliau terima sebagai sebuah kenikmatan.

Wow, ternyata kisah pak Didi bisa membuat orang tertegun dan berfikir sepuluh kali untuk bermalas-malasan. Meski aku jarang sekali ke musholla, tapi aku ingin suatu saat nanti rajin. Begitu pula dengan lekaki-lelaki diantara kalian, datanglah ke Musholla setiap kali melaksanakan shalat wajib, jangan memandang itu sebagai beban, tapi suatu keharusan apabila masih ada daya diantara kamu.. :)

*diambil dari http://www.eramuslim.com tulisan Nurudin

Blognya Noordin M Top??

wah, denger-denger Noordin M Top punya blog juga!! coba klik disini.


wah2, laris manis bener. sampai skrg, udah sekitar 3000 komentar terlontar. kebanyakan merasa ga trima, marah, ada juga yg memanfaatkan kesempatan dengan komentar yagn sarat akan SARA. wah2, perlu dibanting. hoho

Kalo emg bener, top juga si Nurdin. eh, bener juga ya,, namanya aja Noordin M Top. wkwkwk.. udah bagus militernya, gaul juga di dunia per-blog an.

Nah, tiba-tiba ada ide buat pemerintah nih. mestinya dia diajak kerjasama yg baik, dijadikan Komandan militer gitu, ato Jenderal dan sejenisnya. kan bagus banget strategi ngumpetnya. tul kan? selain itu, dia pintar mengguna-gunai org buat dijadikan downlinenya. entah berapa gaji downline, mungkin aja diatas penjual Oriflame bintang 3, ato tiens bintang 7 (puder kali yah)..

Udah deh, ntar Noordin tambah memanas atinya baca tulisanku. maap pak Noordin, maap... bukan maksud. saya cuman mendoakan, semoga pak Noordin kembali ke jalan yg benar. nge-bom juga di tempat yg benar.. wkwkwk.. kalo bisa jgn suka ngebom. bau tau'!!